Main ke Pantai Tirtamaya 💦

Assalamu’alaykum wa rahmatullah 🌷

*memeluk kain pel mesra* subhanallah gini hari belum selesai bebenah! Bukan pemalas, emang dari pagi kerjaannya ngga abis-abis ya nyuci baju tiga bak, nyuci piring numpuk nan  jemuran  belum nyapu, ngepel sambil gosok sana sini (diselingi tidur-tiduran kalo cape hehe). Maklum baru pulang ‘mudik’ karena kamis lalu ada kerabat suami yang meninggal, terus impulsif aja sampai sana saya dibuang  disuruh nginep sama pak suami. Dia nya mah pulang karena Jum’at harus masuk kantor. Alhamdulillah yah saya mah happy banget ditinggal di sana, bisa liburan dadakan bebas dari kewajiban bebenah sementara ihik 💕.

Blablabla saya sama sepupu googling tempat main di Indramayu ada apa aja, mumpung disini, yekan! Rencana awal ke hutan bakau Karangsong, malah jadi nyoba pantai Tirtamayu saking penasaran apakah benar pantainya tidak butek seperti Anyer apalagi Ancol???


Maashaa Allah ada pantai cantik di Pantura 💦🌷

Kami happy banget karena beyond expectations yang mikir pasti sampah bungkus popmie atau rinso di mana-mana, airnya yang coklat dengan dipadati anak-anak kecil berkulit hitam tergoreng matahari, dan kotor. Ternyata engga, alhamdulillah.

Pantainya bersih walaupun ngga jernih dan pasir nya coklat. Dari pantai pun air nya warna kehijauan dan soal sampah well pasti ada tapi ngga sampai yang banyak numpuk. Masih lebih banyak kulit kerang nya di bibir pantai!



Sekitar 1 – 1 1/2 jam dari rumah sepupu kami di Desa Bongas. Tapi jalannya baguuuus, lurus dan sepi dengan pemandangan kiri-kanan hamparan sawah tak bertepi. Serem juga kalau malam-malam ya 😶 takut ada begal.
Tiket masukya murceee alias murah, 7000 Rupiah per-orang dan biaya parkir mobil 5000 Rupiah, motor 1000 Rupiah. Tenang, minim cabe-cabean.

Pantai nya sepi dan fasilitasnya lengkap; bungalow tempat istirahat di sepanjang pantai, westafel di pinggir pantai, kamar mandi sekaligus tempat bilas, musholla yang alhamdulillah super layak (bukan gubuk reot macam di Anyer), dan warung makan!

Semua fasilitas nya apik dan berbentuk bangunan, bukan bambu yang dipaksa-paksa jadi bangunan 😂

Menunggu sunset yang masih 1 jam lagi


A’la tomingse 😂

Lumayan bisa nyicip pantai karena Inshaa Allah bakal lama ngga bisa main ke pantai oke yang cuma ada di pulau-pulau sebrang. Ngga apa, sehat-sehat ya baby! *elus perut mesra*

Nonton Orang Selfie di Taman Mangrove PIK

Minggu pagi pak Suami tiba-tiba nyeletuk “Mau jalan-jalan ke mana hari ini?” Wadaw! Tumbenan kan mashaa Allah, biasanya saya harus ngerengek manja dulu sambil ngeluarin jurus gambar-gambar tempat wisata idaman dan pengetahuan hasil googling. Itu pun ngga pernah terkabul, hahaha 😦 .

Jadilah hasil celetukan impulsif, kami berangkat ke Taman Mangrove Pantai Indah Kapuk, karena itungannya masih di Jakarta dan ngga ada warna jalanan merah membara ketika dicek di GMaps. Apesnya begitu keluar tol, kami dihadang mbak-mbak riweuh nan nyaring yang sebenernya adalah joki! Tanpa memberikan kesempatan kami bertanya kenapa dia langsung nyerocos.

“Mau ke Taman Mangrove ya?!! Salah bukan lewat sini! Daritadi juga pada salah akhirnya saya anterin! Masih jauh 8km lagi darisini! Nih saya anterin pake motor!”

Saya udah sakit kepala denger ocehannya yang berantakan dan penuh intrik, jadi kami cuma diam sambil nungguin dia selesai bicara dan tancap gas mencari jalur lain. Kerjaan kok nipu sih, Hih!

Alhamdulillah setelah dibawa GMaps muter-muter sampe salah tempat (kami heran kok Taman Mangrove-nya ngga kayak di Google, mana banyak orang mancing!) sampai juga kami dengan membayar Rp 25.000 perorang dan parkir mobil Rp 10.000. Well, ekspetasi saya dengan harga tiket masuk yang sama kayak tempat wisata di Lembang, pasti fasilitas nya lumayan asik.

Ternyata, isu dilarang bawa kamera professional (termasuk GoPro) benar adanya, dilarang bawa makanan dan minuman (tapi fasilitas vending machine minumannya rusak semua, grr) dan banyak dilarang lain! Okelah kami tetap semangat mau masuk tapi begitu masuk sudah dihadang pertigaan dengan satu jalanan jelek berbatu, gersang dan penuh lumpur, sedangkan satu lagi jalanan yang rapi dan rimbun. Kenapa perbedaannya timpang sekali, ya?

Jpeg

Jalanan utama yang bagus

Kami memutuskan lewat jalanan yang ‘waras’ aja. Meskipun panah jalan menunjukan ‘jembatan besar’ harus lewat jalanan berbatu itu. Hiii… kami mau lewat yang enak-enak aja sorry yee. Sambil melihat kiri kanan ramai sekali rombongan dan geng anak muda yang numpuk di mana-mana untuk ber-selfie. Saya sampai harus menunggu demi mendapatkan gambar tanpa ada mereka difoto saya dan buru-buru sebelum datang lagi rombongan baru menjajah, walaupun kena juga dikit.

Taman Mangrove ini membuat saya berdecak lega karena masih ada tempat main selain Mall yang ‘niat’ di Jakarta ini. Walaupun ramai nya minta ampun! Plus, kesenengan orang ialah mandek di satu titik demi mendapatkan jepretan yang cakep meski menghalangi jalan, duh! Padahal suasannya sejuk dan enak untuk dinikmati tanpa repot fokus ke ponsel melulu.

Setelah berjalan sambil lihat kiri-kanan, kami berhenti di depan panah yang menunjukan tampat ‘mengamati burung’ melalui sebuah jembatan bambu mix kayu yang lumayan sudah reot, tapi teteup pada antre untuk selfie dong.

Kami harus super hati-hati saat melangkah di atas jembatan ini karena takut kepeleset dan permukannya bikin kaki sakit! Alhasil sepanjang jalan saya sibuk nunduk dan ternyata suami juga, kami ketawa karena malah jadi ngga nikmatin pemandangan sekitar. Ini mah bukan mengamati burung, tapi mengamati jalan! Yang membuat lumayan bikin sedih, hampir tidak ada tanaman mangrove, malah penuh sampah berserakan di kiri-kanan. Dari sampah bungkus indomie dan minuman, sampai sampah tas sekolah. Gimana ceritanya, sih?!

Meskipun begitu tiap kami keluar masuk hutan mangrove (yang tidak ada mangrove-nya) selalu saja disuguhkan dengan pemandangan air nan indah. Aslinya banyak sekali sampah di tepian, hiks.

Ternyata Taman Mangrove ini mempunyai banyak jalur jembatan yang bisa dimasuki, kami langsung bergegas memilih salah satu jembatan yang ditunjukan oleh papan arah ‘Arah Pantai’. Waduh, ini dia nih! Masa ada pantai di sini. Semangat kami kembali menelusuri jembatan yang bikin sakit kaki berharap begitu keluar dari hutan ada pantai tersembunyi macam film The Beach om Leo di Phi-Phi island, halah.

P_20170122_131702-01.jpeg

Ini… pantai?

Sudahlah jangan kau berharap apa-apa. Begitu keluar dari jalur ‘Arah Pantai’ yang kami dapati adalah serupa Situ Babakan di Jagakarsa. Indah sekali!

Beberapa orang yang berhasil melalu jembatan menyakitkan juga tampak terdiam dan duduk menikmati semilir angin, membiarkan angin membawa perasaan kecewa mereka. Ajaib nya tidak ada yang Selfie! Lagian sampah di sini lebih banyak, Ya Allah.

Cukup 2 jam kami kembali pulang. Senang di Taman Mangrove sejuk, banyak tempat duduk, dan lumayan rapi. Kekurangannya restorannya lebih mirip kantin sekolah, banyak sampah dan fasilitas kurang terawat, plus copot itu papan penunjuk ‘Arah Pantai’ hahaha.

Alhamdulillahiladzi bi ni’matihi tattimusolihat…jalan-jalan ke mana lagi kita 😀

Seharian di Lembang!

Yey alhamdulillah mumpung laundry lagi sepi dan badan mulai enak setelah kemarin dihajar sama yang nge-laundry  21kg (bajumu ngga habis apa ngelondri kok selemari huh) saya berhasil juga nerusin ini post yang udah dicicil-cicil sebulan lebih ini berbekal ingatan minim dan kerinduan mau lanjalan lagi *lirik suami yang sakit kepala banyak tunggakan*

Selama empat hari di Lembang…

….lho katanya seharian?!

Alias jalan-jalan di Lembang seharian terus malem baru pulang ke hotel. Saya sama suami sudah jauh-jauh hari merencakan tempat main di Lembang yang harus dijajal benar-benar biar ngga rugi. Padahal sifat suami dan saya kebalikan, saya impulsif sedangkan suami harus ada itinerary-nya kalau ke mana-mana bahkan ke mall sekalipun! Kacaunya, suami itu pemalas jadilah saya yang wara-wiri cari info ke teman-teman dan googling sana-sini, huh! Untung saya seneng.

Padahal sudah rusuh merencanakan tetek bengek jadwal jalan-jalan untuk hari pertama, hari kedua, dst. Ujung-ujungnya hari pertama kami memilih goleran di hotel yang sudah kami book di KlikHotel sebulan sebelumnya, karena cuaca hujan nan syahdu dan badan kami masih remuk. Okelah tetap saya sebut hari pertama aja yah hehehe.

Hari Pertama

Berangkat pagi hari dari hotel Villa Chocolate yang sengaja kami pilih untuk menginap selama dua malam karena harganya yang muraaaaah, nyaman dan strategis. Setelah sarapan habis disikat, kami meluncur ke Dusun Bambu. Berpegang teguh pada GMaps, ternyata cuma berjarak 15 menit dari hotel dan  Dusun Bambu ini lokasinya jauh dari jalan utama, macam Taman Safari yang masuk lagi lewat rumah warga.

Ma shaa Allah laa quwata illa billah nikmatnya teknologi GPS, saya jadi ingat perjalanan berapa tahun silam melintas Sumatra bermodal GMaps yang bikin baper sendiri habis abang GMaps bela-belain sekali ngelintas hutan belantara… demi saya.

DCIM126GOPRO

Peta Dusun Bambu

Sebelum masuk Saya dan suami sok-sokan mau membaca peta yang terletak di jalur entrance biar berasa kayak turis, peta menunjukan denah dan lokasi tempat main yang terletak mencar-mencar. Apesnya sebagian besar masih coming soon! Yaudah lah, kami ngga terlalu kecewa juga karena tiket masuknya mursidaaaa alias murah meriah, sekitar 15 ribu per-orang dan tiket bisa ditukar bibit tanaman atau sebotol air mineral. Begitu masuk kami disambut view hamparan sawah yang merupakan bagian dari latar penginapan di Dusun Bambu. Ada halte tempat menunggu bus wara-wiri (saya ngga tahu namanya,tapi sejenis mobil odong-odong tanpa tembok) juga sebagai fasilitas untuk mengelilingi tempat ini, tapi suami langsung menyeret saya melewati tengah pematang sawah alias jalan kaki menuju danau iconic-nya. Biar soswit yeee gandengan tangan tengah sawah kayak Iteung & Kabayan.

Sepanjang perjalanan menanjak kami disuguhi bunga-bunga dan rimbunnya pepohonan, sayangnya salah satu tempat foto-foto hits yaitu rumah pohon berbentuk sarang burung sedang maintenance jadi saya langsung nge-ultimatum pak suami terhormat, wah alamat harus kesini lagi nih! hehehe.

DCIM126GOPRO

Souvenir & Food Court

Tidak sampai 2 jam semua sudah kami jelajah. Angin berhembus lumayan kencang disertai gerimis halus sekali-kali membuat kami berdua menggigil kedinginan, kami memutuskan masuk ke bangunan berbentuk kayu tingkat 1 yang ternyata food court serta toko suvenir (mau nongkrong di restorannya sayang budget hihi). Semua jajanan disini pricey alias muahaaaal. 5 Buah otak-otak dihargai Rp 25.000, hih! Diluar sana Rp 5000 bisa dapat 5 buah. Sudah lapar mata jajan ini itu pas dihitung waduh.. pantas masuknya murah sekali yah hahaha. Gara-gara ini jadi kebongkar sifat asli suami saya yang hobi jajan ngga pake lihat harga baru misuh-misuh pake nyalahin saya hobi belanja, yeee!.

Selesai menjelajah Dusun Bambu, kami lihat jam masih menunjukan pukul 1/2 11 siang. Suami mulai mengulik GMaps untuk melihat jarak dari sini menuju Farm House Susu Lembang, yang tengah hits jadi tempat selfie-selfie depan rumah Hobbit nya. Ternyata tidak terlalu jauh cuma 15 menit.Apes nya jalur terdekat sedang ditutup karena tanah longsor, jadilah kami dialihkan jauh sekali memutar naik gunung yang terjal dan berbatu. Sepanjang jalan saya menahan napas sambil ngedumel, kalau lagi hamil bisa beranak di jalan!

45menit kemudian kami baru tiba di Farm House yang tentu saja super rame sama ABG berpakaian seksi ditengah udara dingin, padahal ini weekdays!. Kembali membayar tiket masuk yang murah (Lembang juara memang) plus tiketnya dapat ditukar segelas susu segar dengan berbagai pilihan rasa, kami kembali menjelajah tempat yang baru di depan pintunya saja sudah penuh dijadikan tempat Selfie! Ya ampun, nikmatin dulu tempatnya dong.

Cantiknya ma shaa Allah. Mata kami disuguhi bunga-bunga dimana-mana dan bangunan ala-ala Eropa yang ternyata restoran. Tempat duduk pun banyak disediakan dimana-mana, membuat kami memilih duduk menikmati disini ketimbang berjubel di rumah Hobbit dan pagar gembok cinta, sampai ada sumur cinta nya segala sebagai tempat membuang kunci gemboknya. Ealah, buat saya aja sini! Selain setiap sudut yang cantik, tentu ada pusat kandang binatang ternak yang membolehkan pengunjung memegang atau memberi makan hewan-hewan tersebut. Hihi, saya mah takut.

DCIM126GOPRO

Mbe Aje Ye Kan

Mumpung lokasi nya sebelahan, maka cukup 2 jam mengelilingi Farm House dan langsung ngacirrrr ke Floating Market Lembang. Seketika disuguhi danau yang terhampar dengan beberapa rumah ala Eropa yang konon buat foto-foto pake kostum yang bisa disewa, Ma shaa Allah syahdu. Tiketnya pun sama murahnya dan bisa ditukar dengan Milo,kopi ataupun jus jeruk. Love banget sih Lembang ini, asal jangan jajan aja di dalemnya hihi.

Suami saya langsung menarik saya ke wahana miniatur kereta api, aduh apa sih …sebenernya saya ngga begitu tertarik tapi rengekannya ngalahin anak bontot. Yaudah deh, ternyata harus membayar lagi tiketnya sekitar Rp 25.000 begitu juga kalau mau masuk ke tempat main lain seperti taman kelinci (yang suami ngerengek mau masuk! Ngga yah..)

Saat itu pengunjungnya cuma kami dan sepasang suami-istri dengan anaknya yang kegirangan lari-lari mengikuti tiap kereta yang melaju. Sama girangnya dengan suami yang melas-melas kepada ‘masinis’ agar miniatur kereta ini dijalankan semua terus dia ikut lari girang juga *tepok jidat*

 

Taman miniatur kereta api ternyata lucu banget! Skala perbandingan 1:24 dengan kereta api sungguhan plus banyak miniatur rumah,orang, pohon bahkan Boscha dan yang bikin makin realistis banyak scene dramatis kayak miniatur kecelakan mobil, rumah rubuh, kebakaran, orang yang suka jalan diatas rel kereta api bandung diantara bukit, dan banyak lagi. Suer abang-abang yang bikin kreatif banget yah hahaha.

Sisanya tentu saja kami melipir ke pasar terapung alias floating market untuk menjajah kuliner yang dijajakan di atas perahu, hihihi lucu. Sayangnya saya lupa untuk memfoto karena sudah kalap kalau liat makanan,banyak pula.

Hari Kedua

Badan sudah bugar siap menghajar jalanan Lembang lagi, kami melesat ke Grafika Cikole atas saran seorang teman yang kurang terpecaya (soalnya suka over excited, semua dibilang enak, bagus, huft) tapi karena memang hits juga dengan penginapan model rumah kurcacinya sebagai tempat selfie yaudah cus kami tiba disini pukul 9 pagi. Udara yang berkabut ditambah rimbunnya hutan yang dijadikan tempat main ini membayar praduga kami yang takut tempatnya kurang asik.

DCIM126GOPRO

Assalamu’alaykum Pak ReTe…

Tiket nya murah sekitar 15ribu dapat ditukar untuk main flying fox, ATV atau mememetik sekaligus free segelas jus stroberi segar, yum! Karena suami saya takut saya barbar dan jadi Batman kalau memilih main flying fox, maka dengan usaha sedikit menaiki tebing kami menuju perkebunan stroberi. Setelah menyeruput segarnya jus sambil menikmati view hutan dari ketinggian Ma shaa Allah, dan kencangnya speaker seorang MC yang tengah memandu acara hura-hura raker (serius deh, mengurangi nilai tempat ini), kami menerjang kebun stroberi yang masih pada ijo-ijo.

Suami saya yang awalnya tidak berselera malah jadi paling getol mencari stroberi paling gendut dan merah, kalau ngga gitu ngga boleh dipetik katanya. Iya deh bang…

DCIM127GOPRO

Sah? Saaah…

Tidak terlalu lama di Cikole, kami turun gunung lagi menuju De Ranch. Haduh keseringan muter-muter di sini kami udah berasa jadi warga sini, semua jalanan khatam.

DCIM127GOPRO

De Ranch

Mata saya seketika menjadi sejuk dan syahdu karena begitu masuk terhampar pelataran serba hijau dengan background bukit-bukit ditambah banyak kuda kocar-kacir. Ada beberapa pengunjung yang berlalu-lalang dengan memakai atribut koboi sambil naik kuda dituntun petugas, ada pula delman ala koboi yang membawa pengunjung memutari tempat ini khas odong-odong.

Saya dan suami memilih jalan kaki supaya hemat mengelilingi de’ranch yang ternyata tidak terlalu luas sambil waspada supaya tidak menginjak kotoran kuda sekaligus ditabrak delman dari belakang. Jangan lupa sambil bergandeng tangan biar berasa kayak Pocahontas.

DCIM127GOPRO

Inikah sepanjang jalan kenangan itu…

Ternyata De Ranch juga menyewakan sebuah spot untuk yang ingin melakukan sesi pemotretan yaitu yang ada difoto atas. Biasanya untuk yang foto pernikahan. Okelah kami yang menikah tidak punya foto mah lanjut aja cari tempat ngemper.

Rumah ala koboy ini menjadi spot foto yang paling di gandrungi ABG, biar berasa sedang menaungi rumah tangga kali yah. Tapi pak suami dengan pede nya masuk ke beranda rumah tersebut dan duduk macem tuan tanah, kurang kopi item aja. Dasar udah berasa preman De Ranch, dia asik duduk-duduk membiarkan para ABG duduk menunggu dari kejauhan sambil menatap sedih ni om-om kapan hengkang.

DCIM127GOPRO

Sambil menyeruput susu.

Permainan yang ditawarkan selain kuda-kudaan tidak terlalu banyak, dan tentu saja bayar lagi. Tapi salah satu wahana yang bikin saya ngiler adalah Kolam Indian Totem Web, yang sesuai namanya yaitu mendulang bebatuan diantara kolam yang ceritanya sungai sampai dapat sungai. Hahahaha walaupun emasnya boongan.

DCIM127GOPRO

Mupeng

Mumpung hari itu belum masuk Ashar, kami segera tancap gas lagi ke Taman Begonia. Diantara tempat wisata lain, Taman Begonia satu-satu nya yang saya rasa belum memiliki fasilitas dan tempat yang wah. Tapi cantikkkkk ma shaa Allah banyak bunga-bunga dan tentu saja para pelaku selfie.

Dengan tiket masuk yang tentu saja murah, dan cantikanya hamparan berbagai tanaman dan bunga membuat kami ingin menari-nari India untung sadar diri. Walaupun banyak tatanan yang terkesan maksa dan membuat saya mengernyit “maksudnya apaaaa…”

DCIM127GOPRO

Aku tak mengerti bapaknya siapa itu sampe dibuat patung dan dijajarkan pas dengan ukiran hati bersayap, Ya Allah

Hari Ketiga

…Alias hari terakhiiiirrrrr! Saya dan suami pindah ke hotel lain yang memang sudah menarik hati kami setiap kami lewat yaitu The Green Forest Lembang. Akhirnya malam sebelumnya, kami memilih Go Show untuk mencek rate menginap semalam (yang tentu saja berbeda lumayan banyak dibanding dengan memesan terlebih dahulu di KlikHotel atau Traveloka) dan langsung book!

DCIM127GOPRO

Hello!

Membayar sekitar Rp 600.000 untuk room tipe Deluxe plus deposit Rp 200.000 yang akan dikembalikan bila tidak menggunakan services tambahan dari hotel, kami puas puaaaaaaas sekali! Hotelnya cantik dan kamar mempunyai balkon yang menghadap ke halaman rerumputan serta sebuah bangunan wedding chapel cantik di ujungnya. Kamarnya super nyaman yang penting terdapat hairdryer dan teko listrik serta air panas yang melimpah ruah, akhirnya saya lupa memfoto suasana kamar karena sudah hancur lebur duluan.

Kami fix memilih menghabiskan hari terakhir goleran saja di hotel sambil menjelajah setiap sudut hotel yang ternyata cantik semua! Setelah begah sarapan di alam terbuka (bolak-balik nambah pula, duh) Kami mulai menjelajah, tentu saja salah satunya menuju wedding chappel nya yang iconic dan kolam renang tepi jurang.

 

Alhamdulillahiladzi bi ni’matihi tatimussolihat, yuk kapan jalan-jalan lagi?

Magang In Law

Sebenernya mau ceritanya mah soal keriaan waktu ke Lembang bulan lalu, (yang anteng di draft sejak entah pft) plus udah haus-haus mau liburan juga kan 👻 *peluk kaki suami* tapi sayangnya semua konten ada di laptop yang jauh di kota sebelah di Jakarta Selatan sana…

…Yakan daku di Depok 😂 beda kota lah teteup 💆

Jadi setelah melewati naik-turun-turun-nyusruk-ugetuget keriaan tinggal bersama mertua *alhamdulillah!*, nambah lagi keabsahan di hari-hari saya sebagai menantu slebor yaitu membantu papa mertua menjaga toko laundry.

Alhamdulillah rumah yang bakal saya tempatin lagi (dan masih entah kapan selesai:'() direnovasi, padahal mah bukan renov lagi itu bongkar ulang. Sabar sabar!!!!! *peluk dompet suami* nah, karena mas suami dari pagi sibuk ngantor lalu sore sibuk goleran juga, jadi papa mertua saya lah yang turun tangan memantau seharian disana sekaligus ngerecokin 😂

Alhasil sejak berminggu-minggu ini saya fix jadi anak magang laundry *kretekin pinggang* bolak balik ngangkat baskom isi baju berpuluh kilo buat dijemur udah jadi makanan bukan cemilan lagi, dan tantangan terberatnya menaiki tangga menuju tempat jemuran sambil gendong baskom super berat *tepuk tangan haru*. Belum mbak Ida yang punya tugas menyetrika suka menggeleng salut sambil berbisik menyemangati “Hati-hati turun bero kak.” Ya Allah.

Kasian kamu muter melulu

Kadang dari pagi saya udah bad  mood ketika mengingat tumpukan baju kotor pelanggan, sambil ngebayangi kapan sedepnya bisa bangun pagi ngeteh sambil menikmati udara yang masih segar ditemani semangkuk bubur ayam Cianjur. Tapi diingat-ingat waktu masih single biasanya saya bangun pagi ya nyapu-ngepel juga, podo  wae.

Ada yang paling bikin gondok waktu salah satu pelanggan ngelondri baju 25kg! 25 kg cuma dari satu orang belum cucian pelanggan lain Subhanallah, saya gemes sendiri antara rezeki atau ujian 😠 belum cuaca qodarallahu tiba-tiba hujan lalu mendadak cerah lagi, udah buru-buru nurunin baju seabrek yang lagi dijemur mau nangis menerima kenyataan ini baju harus dianikin lagi 💔

Pernah salah satu pakaian yang lagi dijemur tiba-tiba lepas dari gantungan dan masuk ke kolam ikan. Ah bisa aja deh… *pingsan*

Ada juga qodarallahu ketika salah satu mesin cuci mendadak rusak, waduh mamam bisa panjang papa nyap-nyap *pasang muka tanpa dosa*. Tapi ada hikmahnya juga salah satu mesin rusak, saya jadi ada waktu leyeh-leyeh sambil nunggu cuciannya kelar hihi bisa blogging dikit-dikit. Cuma jam magang saya jadi ngaret sampe ashar baru beres 💆 well, semua ada plus minus nya.

Langit biru berangin kesukaan Laundrer

Yang paling menghibur adalah keisengan saya menebak-nebak kepribadian pelanggang dari baju yang dilondri. Saya suka ketawa *siap-siap digiles para pengguna jasa laundry* yang bajunya udah bolong-bolong sana sini, aduh maaf yah! Kalian hemat luar biasa saya harus mencontohnya!!. Terus yang bajunya bermerek semua, bahkan pakaian dalemnya minimal H&M 💅 hihihi… Nah, yang paling pe-er yang model bajunya atau jilbabnya ajaib saya jadi bingung gantungnya gimana. Nyari lobang lehernya aja mikir 😂 bener-bener deh kepribadian orang beda-beda.

Dampak kerusakan yang saya rasakan sejak bejibaku sama puluhan kilo baju londri adalah saya langsung darah tinggi tiap liat suami naro anduk, baju, celana apapun sembarangan di lantai, kasur, pokoknya bukan di tempat jemuran atau gantungan 😠 kalo kata netizen kzlbat gua hahaha.

Tetapi dibalik suka duka, saya tetep senang magang ala-ala iya kan membantu orang tua sendiri 😘 sekalian olahraga mengimbangi mama mertua saya yang senang hati gelonggongin saya makanan tiap menit 💪

…berasa di rumah nenek.

Ma shaa Allah laa quwwata illa billah 💙

Rumah Baru

Assalamu’alaykum 💕 syelamat siang dari saya yang sibuk goleran! Ihiy abis blogwalking lagi baca post temen-temen setelah sekian lama jadi rindu juga menulis ngga jelas. Apalagi banyak yang baru nih 🙈

Iyaaaa, alhamdulillah sekarang saya resmi jadi ibu rumah tangga *guling-guling* jadi sekarang ada status baru, teman hidup baru, dan tentu saja rumah baru. 🎊

Rumah baru?

Yep, di PIM alias Pondok Indah Mertua *lawas banget ini singkatan* jadi sekarang saya dan suami menetap di rumah orang tua suami sampai rumah yang rencananya kami sewa In shaa Allah bisa ditempatin bulan depan. Well, gimana huru-haranya tinggal sama mertua? Apalagi saya full time di rumah sementara suami kerja. Apa benar semua hasutan temen-temen saya yang udah nikah duluan soal angkernya tinggal sama mertua?

Tantangan Baru

Ini kesan yang saya dapet di pagi pertama bangun tidur di rumah mertua. Agak setress? Iya. Setres banget? Iyaaaaa 😂 iyah suer apalagi sebelum nikah temen-temen saya kerjaanya nakut-nakutin.

ST (Seorang Temen) : Weh cape tinggal sama mertua, bangun nyapu, tidur juga meluk sapu!

Hmm saya sih ngga keberatan karena pas banget saya cinta bebenah ❤ tapi tetep aja panik dikit tinggal sama orang baru, mertua pula. Plus, saya orang nya super awkward sama orang baru dikenal, ngga banyak ngomong dan kaku, nah ini harus hidup bersama huaaa 😂
Hari pertama saya ditinggal bertiga aja di rumah sama mertua, pulang kerja saya langsung di introgasi suami.

Mas : betah ngga?

Saya : *diem*muka udah ngga kebaca*

Besok bangun pagi saya nangis ambyar di kamar mandi 😂

*Percayalah, mertua saya super baik padahal 😘*

Mama mertua saya itu seneng banget masak, dan masakannya beneran enak banget ma shaa Allah 😍😘 saking hobi masak mamer bangun jam 2 pagi buat mulai masak dan dijual buat sarapan sampai jam 12 siang. Terus mulai siap masak buat besok pagi lagi jam 2 siang sampai jam 10 malam, kemudian fase berulang. 💪

Saya sampai tergoler lemah ngikutin beliau, mana masih kaku-kakunya saya juga ngga bisa-bisa amat masak. Motong kol aja salah, qodarallahu mamer sabar banget dirusuhin. Sedangkan papa mertua saya sudah pensiun, tapi beliau juga sama pekerja kerasnya jadi ngga mau diem juga dan buka usaha laundry. Setress lah saya yang kerjaannya goleran doang waktu masih di rumah sendiri, papa dan mama mertua saya gerak terus kayak tamiya baru ganti batre Ma shaa Allah.

Well, waktu awal-awal saya masih kelimpungan mau ngapain di rumah apalagi semuanya sibuk kerja mana teler karena jam 1/2 4 pagi udah harus ON! Hobi saya bebenah udah diambil alih mbak Imah yang bantu bersih-bersih rumah ini. Hadeh, jadi saya mondar-mandir ngikutin mamer dan beneran super bingung serba salah aku harus apaaaaaaaaaaa 😂 hahaha

Sampai akhirnya pelan-pelan saya mulai menemukan pola kegiatan alhamdulillah. Dulu waktu masih gadis *duile* saya bebenah terus dzuhur udah ngga ada kegiatan atau pergi kajian atau bikin pesenan kue. Sekarang saya kerjaanya seharian makan semua masakan mamer 😂 nasip jadi tukang ngabisin di rumah ini. Belum suami tiap pulang kantor ngajak jajan! Et, saya heran mama nya demen masak seabrek, anaknya demen jajan seabrek. Belum papamer suka beli lauk lagi padahal masakan mamer masih berapa panci.

Yaudah saya lagi yang kebagian abisin.

*bakar timbangan*pecahin kaca*

Mungkin ngga saya aja yang ngalamin ini *peluk satu-satu* bertahanlah, dan segera cari tempat tinggal sendiri 😂👊

Btw ini anggota keluarga yang lupa saya sebutin ni, paling bawel di rumah ini. Milan namanya. Senang menyapa orang lain, siapapun disapa ‘Assalamu’alaykum!’ Pake suaranya yang sok imut 😂 seneng menggonggong dan niruin suara knalpot, kadang membanggakan diri sendiri ‘kakatuaaa~ kakatuaaa~’ tapi kalo lagi korslet suka jadi salah sebut ‘salamulekumtuaaa~’ atau ‘kakamulekuum~’ entahlah suka-suka ngana.

Menghitung Hari…

Title-nya ngga ada galau-galaunya sama postingannya yah! 😋 Emang kebetulan begitu memasuki bulan ini, saya banyak banget nerima suit-suitan ‘ciyeeee…menghitung hari!’ padahal boro-boro menghitung hari, udah pusing menghitung hutang bener 😢 *ngemut kalkulator* bener, sius deh.

Hah,

saya lagi ngobok-ngobok mesin cuci aja, tiba-tiba di suit-suitin sama temen mama lagi main.

“Cie, menghitung hari.” ujarnya, kemudian berlalu saja begitu.

*muka nanar*

A…. Aku lagi nyuci……

…….menghitung busa rinso.

Alhamdulillah, memang bulan depan adalah salah satu hari bahagia saya bi idznillah… eym ahay. Cuma karena ngga ada ketar-ketir greget, kayaknya karena ngga berasa ribet ngurusin apa-apa… jadi saya yah biasaaaaa sajaaaaaa 😭😓 sampe sempet-sempetnya curhat ‘kok malah lebih excited pas diajak ke Taman Safari sih?‘ yang dicurhatin ketawa padahal saya uring-uringan beneran karena ngga berasa ada rasa membuncah di dada kayak orang-orang gitu huhu.

Tapi begitu memasuki bulan ini, serbuan suit-suitan ‘menghitung hari‘ dan ‘bentar lagi ni yee..‘ akhirnya mulai menimbulkan efek membuncah mengelitik perut, muncul juga perasaan gemes tersebut 😭 ! Walaupun gemes nya antara ngga sabar atau tepatnya mau lakban yang suit-suit in tiap ketemu maupun via chat.

hmm…

*browsing lakban super, diskon*


pic: tumblr

Hadiah = Kasih Sayang

تَهَادُوا تَحَابُّوا.

“Saling memberi hadiahlah, niscaya kalian akan saling mencintai.”

Hasan: [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 3004), Irwaa-ul Ghaliil (no. 1601)], Sunan al-Baihaqi (VI/169)

Assalamu’alaykum wa rahmatullah, selamat hari raya Jum’at ❤️

Saya masih teringat ma sha Allah kasih sayang umi Hana yg memberikan hadiah kecil tapi bermanfaat, hihi. Kemarin siang hari di tengah kajian, gara-gara saat itu ada yang tanya perihal menangkal sihir maka ust. Badru langsung menyeru salah satunya adalah jangan tinggalkan dzikir pagi dan petang! (thayib ustadz huhu…)

Umi Hana langsung mencolek saya,

(Umi Hana) : Buku dzikir udah punya?

(Akoh) : Alhamdulillah udah umm yang ust. Yazid, tapi jarang dibawa berat 😦

: Iyah yg ust. Yazid, nah nih…

Mata saya langsung lope-lope begitu umi menyerahkan 3 buah buku kecil dzikir yang pocketable biyanget (apa itu pocketable!?) alhamdulillahaladzi bini’matihi tatimussolihat 😍 akhirnya punya yg ditenteng tanpa bikin nangis pundak.

Terus, memberi hadiah juga tidak melulu soal materi duniawi,

Imam al-Bukhâri rahimahullah meriwayatkan hadits dalam Shahîhnya melalui jalur ‘Abdur Rahmân bin Abi Lailâ rahimahullah. Ia mengatakan:

لَقِيَنِيْ كَعْبُ بْنُ عُجْرَةٍ فَقَالَ: أَلَا أُهْدِيْ لَكَ هَدِيَّةً سَمِعْتُهَا مِنَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم”. فَقُلْتُ :”بَلَى فَأَهْدِهَا إِلَيَّ”. فَقَالَ :”سَأَلْنَا رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقُلْنَا: ” يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ الصَّلَاةُ عَلَيْكَمْ أَهْلَ الْبَيْتِ؟ فَإِنَ الله َ عَلَّمَنَا كَيْفَ نُسَلِّمُ “

Ka’b bin ‘Ujrah radhiyallahu ‘anhu menjumpaiku, lalu ia berkata, ‘Maukah kamu aku beri hadiah yang aku dengar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam . Maka, aku menjawab, “Ya. Hadiahkanlah itu kepadaku”. Kemudian ia berkata, “Kami bertanya Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wasallam. Kami mengatakan, ‘Wahai Rasûlullâh, bagaimanakah mengucapkan shalawat kepada engkau wahai Ahlil Bait? (Karena) sesungguhnya Allâh Ta’ala telah mengajarkan kepada kami untuk mengucapkan salam kepada (engkau)’.

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ucapkanlah oleh kalian

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.”

Dari teks hadits berupa dialog yang berisi tawaran hadiah oleh Ka’b radhiyallahu ‘anhu kepada ‘Abdur Rahman bin Abi Laila rahimahullah, menunjukan para Salaf saling memberi hadiah dengan memberitahu sunnah Rasulullah  عليه السلام 💝 😍 ma shaa Allah la quwwata illa billah!

Senyum pun bisa jadi hadiah,

Senyum mu kepada mbak-mbak sebelah di kereta yang padat macem buras, In sha Allah wajah lelah dan suntuknya berubah juga mengulas senyum. Karena senyum menular dan membuat perasaan lebih baik, yekan?

Doamu melalui salam adalah hadiah,

Melalui salam mu yang bermakna “Semoga keselamatan, keberkahan, dan kasih sayang (rahmat) dari Allah subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) menyertai Anda/kalian” kepada orang yang tengah diam duduk entah lagi mikirin apa, atau kepada petugas pembersih yang lelah menyapu jalan, bahagia pun In shaa Allah tersirat pada mereka. (Jadi biasakan mulai setiap pembicaraan dan pertemuan dengan salam kepada sesama muslim) 💕

Tentu ada kaidah-kaidah nya kalau soal bermuamalah antara akhwat dan ikhwan non mahrom yah 😋

Daaaaaan sejuta kebaikan lainnya yang dibungkus sebagai hadiah 🎁🎀💝 walaupun sekedar menyampaikan sunnah.

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهْمْ شَيْئًا

“Barang siapa mengajak kepada petunjuk lurus, maka baginya pahala sebanyak pahala orang-orang yang mengikutinya”.

(HR. Muslim no.2674)

Semoga hadiah yang diberikan, kembali padamu sebagai pahala bekal di akhirat. ❤️


Sumber: http://muslim.or.id/25187-hadiah-terbaik-menurut-para-sahabat-nabi.html
Sumber: https://almanhaj.or.id/1087-hibah-pemberianhadiah.htmlv
Pic: WeHeartIt